4/14/2015

A Bitter February



Paaiiiiitttt!
Awal Februari pait bener!
Sekarang gue ngetik blog ini di kosan baru. Kosan gue yang ke-tiga. Dan mudah-mudahan bisa pindah lagi ke yang lebih bagus kalo udah nemu lagi. Emang, sih, lebih gede dari yang kemarin. Tapi gak ada buat dapurnya, rada susah kalo mau masak. Kasian stok di kulkas keburu layu. Terus nyamuknya hadeeuuh pada ganas mengisap darah di tubuh gue yang cuma segitu-gitunya lagi.
Ada yang mau nanya; kenapa pindah?
Ah, pertanyaan yang bagus andai ada yang nanya.
Jadi bisa dibilang, gue baru saja diusir. Tepatnya 4 Februari lalu. Kok bisa?
Apakah telat bayar? Bukan!
Apakah berzina dengan pacar? Bukan, heh!
Apakah berzina dengan yang bukan pacar? Bukan, woooyyy!!!
Apa dong? Ini gara-gara air. Lagi-lagi air. Gara-gara air mengesankan yang salah adalah si air. Padahal bukan, sih. Emang gue yang salah. Jadi begini…
Di suatu pagi yang dingin oleh gerimis, gue terbangun. Sambil ngucek-ngucek mata yang mungkin masih belekan, gue melangkah lunglai ke kamar mandi dengan handuk di tangan. Ngocorinlah kran yang ternyata airnya gak ngocor. Kemudaian gue mengendap-endap ke luar kamar kosan, menuju saklar air di kamar kosan paling pojok. Ternyata emang posisinya off. Kalian tau, lah, apa yang kemudian gue lakukan.
Pas mau mandi banget, si air gak juga keluar dari krannya. Buat wudhu sama mandi seperlunya (gue biasanya hambur kalo mandi) mah cukup. Tapi udah menjadi kebiasaan gue untuk mengisinya kembali sampai penuh setelah habis gue pakai.
Karena kran air gue emang udah lama dol, you know ‘dol?’, jadi gue rada ragu pas nutup kran. Apakah udah tertutup sempurna (cailah), ataukah sebenernya masih kebuka?
Setelah selesai mandi, sayup terdengar bisik-bisik tetangga tentang celetukan gak bisa mandi. Wah, ternyata emang si air gak mau keluar –atau gak bisa, kayaknya. Sebelumnya emang udah sering mesinnya mati. Jadi kalo air gak keluar tuh bukan karena sumber airnya yang habis, tapi alatnya bermasalah.
Kerjalah gue, meninggalkan kosan dengan sedikit keyakinan bahwa kran sudah tertutup (dengan benar). Hal itu gak membuat gue kepikiran di tempat kerja. Pulangnya malah main sampe malem jam sembilan, makan bakmi dan eskrim. Seru banget dan lumayan banyakan.
Nah, pas gue turun dari angkot pulangnya, ada telepon dari nomor tak beridentitas. Gue angkatlah:
“Hallo?”
“Hallo, Bel?” Suara laki-laki. Terdengar asing di seberang sambungan.
“Ya, siapa?”
“Arif..”
Arif mana, nih? Yang terlintas di pikiran gue hanya dua Arif: Arief temen di rumah, atau Arif anak PKL Smakbo di tempat kerja gue. Terus gue tanya aja ini Arif yang mana.
“Arif kontrakan..”
Ooohhh.. baru ngeuh kalo tetangga kosan ada yang namanya Mas Arif. Dhuuarrrrrrr!!! Langsung bad feeling: jangan bilang tentang air, plis!
Tapi sayangnya dia bilang air. Ya, air dari kosan gue ngalir terus. Dia nanya gue di mana. Gue bilang lagi jalan ke situ. Setibanya di depan gerbang, you know what I saw?
Air meluber? Bukan!
Kosan tenggelam? Bukan!
Ada ikan mati? Ngaco.
Bapa kosan? Ya! Dengan berkacak pinggang dan nada bicara tinggi mulai mengomeli gue. Dengan disaksikan beberapa pasang mata, termasuk tiba-tiba ada kucing kawin lagi anuan depan kita (sumpah ini kucing gak tau sikon), dia sesumbar;
“Kamu, ya! Kan saya udah bilangin kalo kran tuh harus ditutup!”
“Iya maaf, toh saya ngerasanya udah nutupin. Mana saya tau kalo ternyata airnya keluar, posisinya mah udah beneran nutup kok.”
“Dibilangin masih gak ngaku. Udah jelas airnya keluar terus. Saya diomelin kontrakan lain karena gak kebagian air. Airnya ngalir ke kamu doang.”
Keren, euy. Ada kontrakan bisa ngomel!
“Ya maaf da gimana. Saya ngerasanya udah ditutup, krannya dol. Kalo gak ada air yang keluar mana saya tau dia masih terbuka atau enggak.” Kata gue sambil masuk ke dalam, ngecek kamar mandi. Air penuh, netes-netes. Katanya udah dimatiin dari mesinnya.
“Kan saya udah bilang, kalo kran rusak tuh bilang.”
Anjriit udah gini baru aja. Waktu atap gue bocor, gue ngomong ke dia. Responnya apa? ‘Yaa nanti’ . kapankah ‘nanti’ itu? Sampai sekarang gak ada tindak lanjut. Waktu lubang kunci gue rusak, sampe berhari-hari gak bisa dikunci, gue berangkat kerja, pintu gak ngunci; waktu gue mandi, waktu gue tidur, gak kekunci Man! Ada gak dia tanggung jawab? Sampe gue sendiri yang akhirnya beli. Yang masangnya si Mas Arif itu sama yang di sebelahnya. Dia baru ke kosan gue pas udah hari ke sepuluh. Haloooo???
Lalu mata-mata manusia yang tadi ‘nonton’ ceramah bapakos, lebih memilih melihat hal lain di dalam kamar kosan  masing-masing. Tapi gue yakin seyakin-yakinnya, telinga mereka masih terbuka dan dapat mendengar dengan jelas apa yang kami cakapkan.
“Kalo kamu gak suka, jangan di sini. Keluar aja!” Kata Bapakos.
“Okeeeh..” Nada gue dibikin senyebelin mungkin. Entah kenapa gue jadi bersemangat menimpali.
“Kalo perlu, malam ini juga kamu keluar!” Sambung si Bapakos.
“Okeeeyy.” Tentu saja untuk yang ini, gue gak mau bodoh. Dikiranya barang gue cuma sekarung baju doang apa?!
Sambil menutup pagar, dia bilang, “Kalo kamu menerima salah dan dosa kamu, kamu boleh di sini.”
H a l l o ? S a l a h  d a n  d o s a ? w-o-w
Who do you think you are, Dude? Lu Tuhan, gitu? Gue udah minta maaf juga keles. Udah mengakui salah pula.
Maka, pemirsa, esoknya pulang kerja, gue dan pacar mencari-cari kontrakan kosong. Apa daya, banyak yang gak sesuai kriteria. Jadilah sekarang gue di sini: kosan baru (lagi). Malam itu juga gue langsung pindahan. Dibantu pacar, Bangkit, Tebe, dan jasa angkut pindahan tentunya. Setelah lebih dari setahun, akhirnya tiba juga gue harus pindah.
Sebelumnya juga emang udah ada kepengen pindah, sih. Pengen yang rada luas. Mungkin emang harus gini caranya baru pindah? Haha. Tapi gue udah ngerugiin orang, dengan teledor matiin kran –yang udah dol. Maafin, ya, tetangga..
Mudah-mudahan gue betah di sini. Walaupun atmospherenya beda dengan waktu gue nempatin kosan lama. Hmm. Gini, ya, merantau tuh. Mungkin perantau lain pernah ngalamin yang lebih pait daripada gue. Segini juga bersykur masih ada yang nerima, masih ada yang layak huni.
Alhamdulillah.
Segitu dulu kali, pemirsa, curhatan gue hari ini. Semoga bisa diambil hikmahnya. Jangan ditiru keteledoran macam gue. Kan konyol endingnya harus begini -___-
Save water! #SelfReminder

1/05/2015

Enggan Kosong



Pelangi memang tak pernah janji untuk selalu datang setelah hujan reda. Tapi dengan redanya hujan itu sendiri, merupakan hal yang patut disyukuri.
 Saat satu-satu orang terdekat pergi, memang tak ada yang datang mengganti. Tapi bersyukur saja, masih ada yang tersisa untuk tetap saling mengisi. Tak mau membiarkan ‘semesta’ pada diri saya menjadi kosong. Jadi saya mencoba membuka pikiran, mata, juga hati untuk bisa sadar sesadar-sadarnya, jalan masih panjang dan akan sayang jika hanya dibiarkan tenggelam lalu larut dalam lara.

Lambaian Tangan: "Hallo" atau "Selamat Tinggal"



Semesta menua. Ada kita di dalamnya.
Ada apa di dalam kita? Ada rasa. Ada jiwa. Ada cinta.
Seiring langkah kaki yang terus berpacu mengejar matahari, kita; manusia, menggoreskan kisahnya sendiri-sendiri dengan tinta tak kasat mata. Itulah karenanya, mengapa kita tak bisa melihat bagaimana orang lain menikmati ceritanya, kecuali jika mereka mau membaginya.
Juga saya, yang ingin membagi sedikit kisah meski hanya remah-remah. Atau lebih kepada janji di tahun lalu, bahwa akan ada goresan kisah yang dituang dengan tinta virtual ini. Lama menghilang, bukan karena ingin menutupnya rapat atau menelan semuanya sendiri hingga tandas tak tersisa.

2014 menjadi tahun yang luar biasa mampu membawa saya pada banyak kenangan. Tak banyak resolusi yang terwujudkan. Yang ada malah air mata berderai karena terlalu banyak merasa kehilangan.
Tahun yang membuat pandangan saya melihat orang-orang di sekitar saya silih beranti. Yang lama berlalu dan yang baru datang. Lebih dari 30 orang jumlahnya. Terlebih juga melibatkan orang-orang penting dalam hidup saya setahun belakangan ini: Ibu Sri Kunmaryati (Juli 2014) dan Kak Adhi Gamayandra (Desember 2014).
Terkadang saya berpikir, sepertinya saya lebih senang memiliki teman tak banyak, tapi solid. Daripada terus bertambah, yang dulu hilang, yang menggantikan tak bisa menjalankan peran sesuai harapan. Harapan siapa? Harapan saya. Tapi dunia (masih) terus berputar. Ditinggalkan dan dipertemukan akan menjadi hal yang harus bisa saya terima.
Tahun lalu saya membuat target, bahwa di bulan Juni saya ingin berjilbab. Sadar masih banyak kekurangan dalam berperangai, mungkin jilbab sedikitnya bisa menjadi benteng bagi saya. Memasuki Juni 2014 saya masih belum mengenakannya. Hingga tepat pada hari terakhir di bulan itu, saya mengenakannya. Bismillah, mudah-mudahan istiqamah.
Tak banyak peristiwa yang saya ingat di tahun ini. Mungkin karena saya tidak menuliskannya. Salah satu yang saya ingat, saya tidak minum soda setetespun di tahun kemarin. Tidak penting? Oh, tentu saja penting bagi saya. Rasanya senang berhasil menahan diri dari apa yang ingin saya hindari.
Mungkin yang paling menyenangkan adalah, di akhir tahun ini saya sudah mampu melunasi utang  bekas biaya pendidikan yang (menurut saya) besar jumlahnya. Membuat bulan demi bulan terasa berat dan penat untuk dijalani. Alhamdulillah. Mudah-mudahan untuk ke depannya bisa saya sisihkan untuk menabung dan membantu orang tua. Aamiin.
Apalagi? Asmara?
Masih dengan orang yang sama seperti tahun lalu. Meski mungkin tak semanis dulu. Untuk sekarang kami disibukkan mengejar cita-cita kami masing-masing. Mengumpulkan seserpih demi seserpih mimpi yang sempat diporakporandakan keadaan dan digilas roda bernama waktu. Tak apa. Jika kami berhasil mewujudkannya, keyakinan kami adalah satu; merasakan manisnya hidup yang jauh lebih manis dari apa yang pernah kami kecap sebelumnya.
Aamiin.
Yang jelas rasa syukur terucap. Masih diberi kesempatan untuk merasakan keberadaan hidup di dunia. Menjalani hari dengan orang-orang terkasih. Diberi sehat. Diberi rejeki. Sungguh Allah Maha Baik, trmasuk kepada saya umatnya yang nista ini.

12/17/2014

The Survivor: ANAK KOST (part 1)



Salam Anak Kost!
Ada banyak alasan kenapa kita harus kost. Sekolah atau kerja di luar kota, atau masih di kota yang sama tapi jaraknya jauh banget dari rumah; pengen belajar mandiri; diusir dari rumah, dll. Kalau gue, alasan yang pertama.
Gue ngekost udah hampir dua tahun. Ini pengelaman baru, karena sebelumya gue bahkan gak pernah diijinin buat nginep-nginep di rumah temen. Sulit, sih. Biasa makan tinggal makan. Kalaupun harus masak, bahannya udah ada. Dan tempat gue masak adalah dapur sebagaimana tempat masak pada umumnya.
Tempat kost gue berupa sebuah ruangan berukuran kurang lebih 3x4 meter. Yang disekat oleh tembok untuk jadi pembatas kamar mandi dan dapur kecil (kalo mau). Ini bahkan lebih sempit dari kamar gue di rumah. Ya apa boleh buat, sebagai buruh pabrik gue harus mencari kost yang harganya cocok dengan pendapatan. Hehehe…
Pada awalnya, di kosan ini gak begitu banyak barang. Bisa karena gak kebeli, atau memang karena gak butuh. Cuma ada satu buah kasur ukuran single yang alasnya pake karpet, satu buah lemari, satu buah dispenser dan galonnya, tentu, dan satu buah rice cooker kecil. Paling itu yang rada memakan space. Alat kebersihan, cermin, dan aksesoris cewek lainnya bisa diatur lah, ya.
Banyak suka-duka sebagai anak kost. Misalnya masalah makan. Kadang kita bosen dengan menu warteg di sekitaran kost. Kalo lagi bosen gitu, ya junk food-lah yag dipilih. Sebagai cewek tulen, hasrat untuk memasak akan timbul dengan sendirinya. Tapi gimana, dong, satu-satunya peralatan masak yang gue punya ya hanyalah si rice cooker kecil. Huu. Tapi sebagai anak kost, kita musti survive! Ingat, itu! Apalagi kalo dompet udah menipis, hasrat itu makin besar. Dan gue makin percaya akan kebenaran dari pepatah “Tak Ada Rotan, Akar pun Jadi”.
Jadi, apa aja yang bias kita masak pake rice cooker?? Cekidot!
  1. Nasi (ya iya, atuh!)
  2. Mie instant
  3. Bubur
  4. Bubur kacang ijo
  5. Bubur jagung manis
  6. Nasi goreng
  7. Roti bakar
  8. Pudding
  9. Spaghetti
  10. Sayur sop
  11. Ceker setan
  12. Cumi asam manis

Ya seenggaknya itu menu-menu yang udah gue cobain sendiri. Pasti ada kesulitan dibanding kita masak pake kompor gas, lah. Judulnya juga survivor, jangan kalah sama anak Pramuka! :D
Sebenernya akan lebih mudah kalo kalian punya ulekan untuk menghaluskan bumbu, tapi gue di sini cuma pake pisau untuk mengiris dan mememarkan bumbu, atau beli bumbu yang sudah dihaluskan. Oh ya, selama kalian gak percaya dengan kebersihan air yang kalian pake buat mandi, gue sarankan pake air galon buat masaknya. Dan dua lagi: selalu buka pintu kosan lebar-lebar, dan harus SABAAAAAR J
  1. NASI
Atulah masa harus aku kasih tau? Kalo punya rice cooker pasti bisa masak nasi! Deal? Ok.

  1. MIE INSTANT
Kayak masak mie di kompor aja, didihin dulu airnya. Terus kalo udah, masukin mie-nya. Tunggu sampe mateng.

  1. BUBUR
Ini tuh sama kayak kita bikin nasi, tapi airnya dibanyakin. Bangeetttt. Misalnya berasnya 1 cup, airnya setinggi telunjuk di atas permukaan beras. Kasih garam secukupnya. Harus sering dibuka dan diaduk-aduk kalo udah mulai mendidih, soalnya sering meletup-letup. Takutnya meleber keluar.
Tau darimana kalo buburnya udah jadi? Ya nanti keliatan lah, saat tekstur berasnya gak utuh lagi, mirip sama bubur yang biasa kita beli di Abang-abang penjual bubur. Atau terserah kalau mau agak kental ya ditunggu sebentar lagi. Kalau udah, pindahin tombol di rice cooker dari cook jadi WARM.

  1. BUBUR KACANG IJO
Ini pertama kalinya gue bikin bubur kacang ijo. Dan senaaaang karena enak J .
Gue mau share resepnya. Tapiiii berhubung gak pernah nakar seberapa banyak bahan tambahannya. Gue biasanya dikira-kira aja. Menggunakan perasaan adalah hal yang penting di sini. Hehe
Bahan:
·         750 gram biji kacang hijau
·         Satu ruas jahe
·         Gula pasir
·         Garam
·         Santan sachet isi 80 ml
·         Air matang
Cara Membuat:
·         Rendam kacang hijau semalaman!
·         Isi wadah pada rice cooker dengan air hingga 2/3 bagian, masukkan kacang hijau yang sudah direndam!
·         Nyalakan tombol COOK!
·         Ketika mendidih, sebaiknya rice cooker dibuka biar letupannya gak meleber keluar.
·         Tambahkan gula HANYA KETIKA KACANG SUDAH EMPUK/HANCUR! Gulanya sesuai selera. Kalau air agak menyusut, boleh ditambahkan lagi.
·         Tambahkan sejumput garam! Tujuannya untuk menguatkan rasa manis dari gula, biar gurih juga.
·         Masukkan jahe yang sudah diiris, boleh juga hanya dimemarkan!
·         Terakhir, tambahkan santan sachet sambil terus diaduk biar santannya gak pecah!
·         Kalau dirasa udah mantap, pindahkan tombol ke WARM, sambil masih diaduk-aduk 5 menitan!
Mudah, kan? Enak nih buat sore-sore. Atau buat sarapan pagi juga oke biar gak terlalu berat.

Hate to Say Goodbye.



Dec  5th, 2014

Ini adalah Jumat yang mendung. Langit tak cerah sejak pagi. Tapi bulir-bulir air yang keluar adalah dari mata kami…
Pagi tadi aku melihat Adhi menangis. Hal yang kukira mustahil untuk manusia seangkuh dia. Saat itu dia sedang berkeliling menyalami satu persatu dari kami yang sudah terlebih dulu menangis. Ini adalah Jumatnya yang terakhir di sini. Setelah lima tahun bekerja di sini, pilihannya tak lagi tetap tinggal.
Semua orang berhak memilih. Tak terkecuali dia.
Ditinggalkan menjadi hal biasa akhir-akhir ini. Banyak wajah asing yang datang sebagai pengganti. Tapi kita, semuanya, tahu. Tak pernah ada yang bisa menggantikan sama persis dengan siapapun mereka yang pergi. Bisa jadi lebih baik, atau tak jarang malah mengecewakan.
Aku sudah banyak merasa sedih karena ditinggal. Saat lulus sekolah, satu sama lain dari kami yang tadinya utuh terhambur seperti butiran tasbih yang lepas dari benangnya. Meskipun sebenarnya kami tidak benar-benar terpisah, tapi jarak menjadi begitu terasa artinya setelah itu.
Mungkin kalau di sini perumpamaanya lain. Karena tidak semua orang pergi secara bersamaan. Dan itulah. Saat kita terbiasa berlima, lalu berkurang satu. Akan terasa pincangnya. Akan terasa kurangnya. Aku tak tahu harus menggunakan perumpamaan yang bagaimana. Aku harap kalian mengerti rasanya.
Saat salah satu dari mereka yang bahkan tak begitu dekat denganku pergi, bahkan aku terkadang merindukannya. Saat tertawa di meja makan, di ruang karaoke, di tempat kami pernah hangout… aku bahkan tak pernah tahu jawaban untuk pertnyaanku yang ini: Jika aku yang pergi, akankah meninggalkan perasaan seperti ini pada mereka yang kutinggalkan? Cukup baikkah aku untuk pantas dirindukan? Atau mereka akan mengingatku sebagai Nabilla yang buruk perangainya, sehingga sepeninggalku mereka senang. Dan justru itulah yang mereka rindukan?
Mungkin ini Jumat terpahit selama hidupku di tempat kerja. Ketika orang yang selama ini ada ‘di belakangku’ pergi, aku tak tahu akan seperti apa nantinya. Karena kukira, aku masih ada di sini hingga sekarang pun karena ada dia.
Aku tak tahu, perpisahan seperti bagaimana yang lebih menyakitkan: dengan atau tanpa ancang-ancang? Kabar dia akan pergi sudah kudengar jauh-jauh hari sebelum hari ini tiba. Harusnya aku –dan semuanya- siap. Tapi ternyata kami tidak.
Lalu bagaimana dengan kepergian yang tak terencanakan? Yang tanpa pemberitahuan? Ditinggal meninggal, atau diputus pacar?
Dalam hidup ini, ditinggalkan atau meninggalkan pasti akan menjadi hal yang ambil bagian. Meskipun pasti, tapi rasanya akan tetap sulit untuk menyiapkan diri..