4/09/2016

Menunda



Kalo ditanya, “Satu kata yang paling bikin lo benci, apa?”, maka jawaban gue  adalah “Menyesal”. Gue rasa di dunia ini gak ada orang yang gak pernah menyesal. Terlepas dari dia bilang atau enggak. Tapi ngerasain mah pasti pernah lah ya..
Yup, meskipun basi tapi kalimat “penyesalan selalu datang di akhir” emang yang paling tepat dan mewakili. Kenapa tiba-tiba gue nulis kayak gini, ya seperti biasa: curhat. Blog gue sekarang isinya curhat-curhat mulu.
Sebenernya kalo mau mengakui, root cause dari penyesalan-penyesalan yang kini bermunculan adalah kebiasaan gue yang gemar menunda-nunda. *kemudian beberapa dari kalian langsung nembak kalo golongan darah gue B*
Mungkin awalnya bermula dari kebiasaan kecil. Menunda membuat tugas, nyuci kaos kaki, bahkan makan! Tapi siapa yang nyangka kalo kebiasaan itu ternyata membawa kita (dalam hal ini gue) menuju penundaan-penundaan yang lebih besar dan fatal. Yang efeknya baru terasa setelah waktu lama berlalu.
Di sini gue mau share aja, sih. Udah 3 tahun berlalu semenjak gue lulus SMK. Gue masih di sini-sini aja. Alhamdulillah, sebenernya. Banyak orang lain yang ingin berada di posisi gue. Tapi salahnya gue, barangkali selama ini terlalu ‘santai’ sampai-sampai lupa bahwa yang namanya dunia kerja tuh gak mungkin selamanya flat. Pasti dinamis. Ada kelok-kelok yang bisa muncul tak terduga. Teman yang gak disangka-sangka ternyata nyikut dengan enaknya.
And FYI, sampai tulisan ini dipublish gue belum kuliah. Padahal temen-temen SMP gue udah banyak yang mau lulus tahun ini; temen-temen SMK seangkatan gue diprediksi lulus sekitar satu atau dua tahun lagi (SMK gue 4 tahun). Kenapa gue belum? Ya itu tadi, gue banyak nunda-nunda.
Gue sadar peundaan yang selama ini gue lakukan berdampak besar bagi kehidupan gue hari ini. Gue menunda kuliah, nyari pekerjaan baru, bahkan menulis! Kenapa? Karena gue terlalu banyak takut dan gak berani ambil resiko. Gue takut salah ambil jurusan, nanti berhenti di tengah-tengah; gue takut kalo pindah nanti gak sebaik kerjaan gue yang sekarang; gue takut tiap kali gue nulis kayak yang udah-udah, stuck dan gak ada ide buat lanjut.
Pengecut? Ya, mungkin. Pemalas? Gue rasa itu cocok, meskipun asem banget harus mengakui sifat jelek diri sendiri. Ya mungkin awalnya gue gak kuliah karena belum mampu ngumpulin uang, karena awal-awal bekerja duit gue dipake buat bayar sisa utang ke sekolah yang nilainya cukup besar (bagi kami). Tapi kemudian gue juga jadi bingung mengenai jurusan yang gue minati. Karena gue gak mau ambil kimia lagi. Setelah itu, gara-gara dilama-lamain akhirnya sadar kalo umur udah bukan ABG lagi.
Tadi pagi gue cerita ke temen tentang salah satu problem yang sedang menggelayuti hidup gue. And he advices me buat lanjut sekolah ke jenjang berikutnya. Ada benarnya, mengingat di Indonesia mah apa-apa yang diliat adalah sertifikat. Skill nomor sekian. Maka turut berduka cita bagi orang yang punya skill hebat tapi gak mampu nyicipin bangku sekolah. Oh, ya, gue bilang ke dia kalo tadinya gue sempet mau ambil Teknik Lingkungan aja. Tapi 5 tahun, dan gue kapan nikahnya. Eh doi malah ngetawain. Karena menurut dia, nikah itu gak nunggu lulus kuliah tapi nunggu lulus syarat minimal menikah.
Kita gak tau kehidupan di depan akan seperti apa. Gue sih pengennya, nikah gak nunggu sampe lulus dulu. Atuh kelamaan, hahaha. Yang jadi masalah (lainnya) sekarang adalah, udah ada calonnya belum? Hahaha *ketawa miris*. Soalnya temen gue yang menikah di tengah-tengah kuliahnya, kebanyakan berhenti karena (katanya) udah makin gak ada waktu, apalagi kalo masih juga harus kerja.
Mungkin kalo tekad  gue lebih keras disertai perencanaan yang matang, gak akan gini jadinya. Oke, Bil, mulai dari hari ini gue udah bertekad untuk gak menunda-nunda apapun yang bisa gue kerjakan. Gue tau gue cape dengan segala aktivitas yang sekarang gue jalani, tapi masa iya cuma cape doang yang gue dapet?
Kesampingkan takut –tapi tetep kudu realistis, berani ambil resiko meski harus mengorbankan beberapa hal. Mudahh-mudahan nanti hasilnya setimpal, aamin..
To my dearest reader, barangkali curhat gue siang ini bisa diambil hikmahnya. Memang cape, bahkan awalnya sepele. Tapi menunda hal kecil yang sebenernya bisa dilakuin SEKARANG akan membentuk kebiasaan yang memengaruhi masa depan lo. Doain semoga gue belum terlambat yaa..
Salam,
Ibel ^^



3/09/2016

No Word(s) Needed

Dan kertas ini masih putih. Belum tersentuh tinta hitam apalagi merah. Entah berapa ribu kata yang terbang hilir mudik di kepala. Namun semua terasa seperti bayang-bayang yang tak pernah bisa tersentuh adanya. Suara tercekat di pangkal lidah. Mencipta nada-nada yang lebih sunyi dari nyanyian seorang bisu. Hanya detak jantung yang berpacu bersama detik jam yang tak kunjung pejam. Tak tahu mana yang akan lebih dulu padam.
Tak perlu lagi kusembunyikan rasa. Karena kau tahu aku tak pandai berahasia. Atau mungkin kau yang terlalu peka dalam merasa. Jadi, masih pentingkah aku untuk mengungkapkannya?

2/27/2016

Bukan Cerita Puteri Cantik, Apalagi Kaya



Mari kita kesampingkan tentang Si Cantik yang pintar lagi kaya yang selalu happy ending bersama pria yang looks perfect ditilik dari segala sisi manapun. Atau Si Cantik yang miskin tapi baik hati dan selalu bisa menjadi juara di hati pangeran tampan. Juga Si Cantik nan licik yang sialnya selalu mampu merebut siapa pun yang ia suka akibat ucapan yang menguntai dari bibirnya yang semanis gula-gula kapas.
Bagiku benang merahnya sama saja: Barang siapa punya tampang cantik, segalanya akan menjadi lebih mudah. Kaya, pintar, itu adalah bonus. Tapi hidup adalah sekelumit cerita yang lebih kompleks dibanding FTV. Si Pembantu Cantik yang akhirnya bersanding dengan majikannya; Si Miskin Cantik yang tertabrak pria kaya, tampan tapi sombong, dan menikah bahagia di ujung cerita. Basi!
Pernahkah kalian pikirkan tentang  bagaimana kisah perjalanan seorang gadis yang tidak cantik, tidak kaya, dan tidak cukup pintar? Pernahkah kalian bertanya pada diri sendiri, apakah cerita gadis macam itu menarik untuk disimak –atau sekadar dibayangkan? Karena pada nyatanya, akan ada lebih banyak cerita macam itu dalam kehidupan nyata. Bukan dalam kehidupan ciptaan sutradara FTV belaka.
Baiklah, akan kuceritakan salah satu kisahnya untukmu. Kuperingatkan padamu, kisahnya tidak akan lebih menarik dibanding cerita Si Cantik; yang bisa mondar-mandir dalam dengan anggunnya dalam isi kepalamu. Bersiaplah, jangan sampai kau mati bosan menyimaknya.
Oke, mulai dari mana? Nama? Baiklah, dalam cerita ini aku ingin mengenalkannya padamu sebagai Indira. Indira yang tidak cantik, apalagi kaya. Kisah hidupnya penuh kerikil. Onak dan duri. Indira yang kalau disuruh memilih, ingin selamanya saja menjadi anak kecil seperti dulu. Yang tidak pernah dituntut untuk mengerti kejamnya kehidupan.
Sekarang umur Indira sudah dua puluh dua. Jauh dari orang tua lantaran harus bekerja. Masa remaja Indira cukup indah untuk ingin diulang kembali; sekaligus cukup mengerikan untuk sekadar diingat lagi. Sedari kecil hidupnya keras. Kisah cintanya selalu pedas, dan berakhir kandas.  Namun Indira selalu bersyukur karena akhirnya bisa terlepas. Baginya, move on tak harus selalu berarti bertambat ke hati lain setelah kisah lama tandas.
Akhir-akhir ini Indira punya kegemaran baru: menulis ditemani kopi yang dibiarkannya mendingin –atau terkadang sengaja ditambahkan beberapa cube batu es hingga benar-benar dingin. Ia juga suka melamun. Ah, bukan, katanya. Dia itu terkadang suka merenung.
Dulu ia selalu yakin akan menikah pada usia dua puluh tiga. Dan jika masih diberi panjang umur oleh Gusti Allah, maka tahun ini usianya menginjak dua puluh tiga. Tapi sudah hampir setahun statusnya masih sendiri. Ia sengaja tak ingin dulu membuka diri. Terakhir berpacaran, ia mampu bertahan dua tahun. Lalu putus. “Aku tak ingin membuang waktuku lebih lama lagi”, katanya. Barangkali karena ia tak “melihat” masa depan di bola mata mantan kekasihnya itu.
Hari ini Indira bertanya (lagi) pada dirinya, apakah ia yakin akan –atau ingin– menikah di usia dua puluh tiga? Apa pula yang membuatnya dulu berpikir begitu? Dan Indira tak pernah menemukan jawabannya.
Indira sedang jatuh cinta. Atau mungkin baru sekadar mengagumi saja, ia tak yakin. Pada siapa? Seorang pria yang juga tidak tampan, tapi cukup manis baginya. Indira tak cukup bisa memastikan tentang bagaimana sebenarnya sosok pria yang beberapa waktu belakangan ini berkelebat dalam pikirannya. Sejauh yang bisa ia simpulkan, bahwa pria itu cukup saleh. Mungkin cukup mampu mengajariku menjadi wanita yang baik, pikirnya.
Setelah bertanya tanpa menemukan jawaban apapun (mungkin karena ia tak benar-benar mencarinya), Indira berjalan menuju cermin. Berkaca. Siapalah dirinya itu? Ternyata bukan wanita yang cantik. Tidak cukup menarik. Bolehkah ia merasa kecewa?
Dilihatnya lagi sekelilingnya. Tak ada barang-barang mewah yang cukup bisa membuat decak di lidah. Ia bukanlah seorang kaya raya. Tidak pula orang tuanya. Ia merasa bukanlah ‘siapa-siapa’.
Kembali ia teringat dengan pria yang mondar-mandir di kepalanya. Bolehkah ia merasa pesimis? Hanya karena ia bukanlah ‘siapa-siapa’, yang mungkin tak cukup menarik untuk sekadar dilirik. Sungguh, memikirkan bagaimana perasaan perasaan pria itu padanya saja, Indira tak sampai hati. Ia tak cukup berani. Ia merasa lancang seketika pertanyaan itu melintas di layar kepalanya.
Kagum, atau cinta? Indira tidaklah tahu. Yang ia tahu, pria itu ramah. Kepada siapa saja. Ia mendapatkan pendidikan yang baik, begitu pula kakak dan adik-adiknya. Senang terhadap unggas dan bercocok tanam. Unik. Menarik.
Pengetahuan Indira terhadap pria itu sangatlah terbatas. Karena nampaknya pria dalam kepalanya bukanlah orang yang cukup terbuka atau mau membagi rahasia kecil tentang dirinya sendiri. Lalu bagaimana mungkin Indira jatuh cinta pada pria seperti itu? Ia selalu geli jika harus dipaksa bicara tentang alasannya.
Dalam cangkir, kopi Indira sudah tandas sepertiga. Dalam hati, ada bisik yang bertanya. Akankah hatinya patah jika suatu hari pria itu mengirimkan sepucuk undangan pernikahan –yang jelas bukan bersamanya? Dalam diam, ada gemuruh yang berteriak “kau tak berhak!”.
Dalam sadar yang sudah penuh, Indira tersenyum, “Aku cukup tahu diri”. Dan luka menganga ia serahkan saja pada Tuhan.  Pasti akan ada obat yang tepat di suatu saat.

*
Indira banyak mencari tahu tentang pria itu semampunya. Jika salah satu di antara kalian adalah pria yang dikagumi Indira, katanya ia meminta maaf karena telah lancang. Menurutku, sebenarnya tidak ada yang patut dipersalahkan, karena itu hanyalah sebuah perasaan. Kejujuran. Soal tepat atau tidaknya perasaan itu dilabuhkan, Indira (atau siapa pun) tak bisa memilih. Rasanya mengalir begitu saja.
Indira bilang, katanya saat ini ia hanya ingin memperbaiki diri. Jadi atau tidaknya ia menikah di usia dua puluh tiga, tak jadi soal. Pastilah Allah sudah merencanakan yang terbaik untuknya. Yakin sekali ia, bahwa usahanya takkan sia-sia. Bahwa ketulusanya akan terbalas juga. Dengan atau bukan dengannya.  Bismillah :)

2/24/2016

Teruntuk Nurul Aini



Ibu,
Kakak gak tau apa gunanya nulis ini. Mungkin Kakak cuma lagi inget aja sama Ibu. Kangen. Rasanya aneh. Dulu kita ‘jauh’ banget, ya? Padahal jarak kita begitu dekat. Tapi sekarang Kakak ngerasa deket sama Ibu. Mungkin karena di setiap langkah Kakak ada doa dari Ibu.
Kalo ditanya, apakah keluarga kita adalah keluarga yang bahagia, Kakak bingung harus jawab apa. Konsep keluarga yang bahagia itu yang gimana, Bu? Kakak kuliah di universitas ternama; Dennis sekolah di SMA favorit; Ibu mengurus rumah tangga; Papah kerja di kantor; dan setiap akhir pekan kita pergi wisata atau sekadar pergi belanja. Begitukah, Bu?
Keluarga kita jauh banget dari “keluarga bahagia” versi kayak gitu. Lalu yang seperti apa? Yang setiap hari atau minimal di akhir pekan bisa berkumpul bersama untuk nonton teve; shalat berjamaah; makan sambil duduk mengitari meja yang sama. Ah, rasanya bukan yang sepert itu juga.
Kakak bahkan belum pernah bertanya sebelumnya pada diri sendiri: “Apakah saya bahagia berada di tengah keluarga ini?”
Entahlah, Bu. Banyak sekali kepedihan yang tergores dan terpupuk sejak Kakak kecil. Kakak pikir seiring berjalannya waktu, pedih itu akan menguap. Nyatanya, mereka menguar bersama udara yang Kakak hirup setiap hari dan membuat Kakak sesak.
Sejak Kakak kecil dan mulai mengerti kehidupan dalam keluarga, setiap tawa dan tangis membawa peran yang membentuk Kakak menjadi seperti sekarang. Makin Kakak dewasa, Allah memberi waktu yang cukup untuk membuat Kakak berpikir, menilai, dan menyikapi keluarga kita ini. Hal yang dulu belum Kakak paham, seringkali berkelebat lagi. Membuat Kakak merenung.
Ibu adalah madrasah pertama tempat Kakak menimba ilmu. Terima kasih karena Ibu berbeda. Terima kasih telah mendidik Kakak dengan banyak kepedihan. Jika dulu Kakak dimanja, barangkali hari ini Kakak tumbuh menjadi wanita lembek tak berguna. Ibu mengajari banyak hal yang baru kini Kakak syukuri.
Keluarga kita mungkin tak sempurna, Ibu. Tapi Kakak memang tak pernah mendamba yang sempurna. Buang jauh-jauh kata itu. Karena sungguh kita tidak butuh. Tapi bolehkah Kakak harap selamanya kita semua bisa utuh?
Setiap prestasi yang dulu Kakak raih, tak ada artinya jika tanpa senyum Ibu. Setiap iri yang muncul dalam hati, tak penting lagi jika ingat kasih sayang Ibu. Terima kasih karena menyayangiku secara berbeda.
Kakak mungkin belum sukses sekarang. Kakak gak tau akan seperti apa di depan sana. Tapi satu yang Kakak janjikan: gak akan bikin Ibu malu. Kalau ada air mata Ibu yang harus tumpah, itu karena Ibu bangga dan haru.
Ibu adalah sosok yang paling hebat dan mungkin gak bisa Kakak tiru. Tapi waktulah yang memproses Kakak menyadari hal itu. Maaf karena Kakak terlambat sadar.
Ibu, segala kemudahan, keberuntungan, dan keberhasilan yang Kakak capai, bukan karena Kakak hebat. Tapi karena doa dan ridha Ibu. Terima kasih karena memberiku kebebasan memilih. Terima kasih karena selalu mendukung dan percaya. Jangan putus memberi Kakak doa. Sunngguh, Kakak sayang Ibu.
Ya Allah, lindungilah Ibu. Sayangi Ibu dengan cara yang paling indah, hiasi senyum tak hanya di bibirnya, tapi juga hatinya. Aku sayang Ibu, Ya Allah... sayang banget. Makasih telah memilihkannya untukku..

1/23/2016

Tae Kwon Do, I'm in Love


Gue lagi CLBK, nih. Sama Tae Kwon Do. Oh, gini rasanya. Setelah delapan tahun “putus” darinya, awalnya gue ngerasa biasa aja. Kita “putus” karena kebodohan gue, sebenarnya. Mungkin karena dulu gue masih kecil juga, ditambah gak diarahkan dan diberi pengertian sama orang tua. Plus pelatih yang tergolong cuek, mentang-mentang muridnya masih banyak meureun. Hehehe
Waktu itu gue masih kelas VII. Gue ikutan Tae Kwon Do gara-gara ngeliat demo pas perkenalan ekskul. Gue yang tomboy dan gak mau diem ngerasa tertarik juga buat gabung. Akhirnya gue ngambil empat ekskul sekaligus tahun itu. Di angkatan gue waktu itu, ceweknya gue doang yang ikut TKD. Tapi seiring berjalannya waktu, nambah lagi dua-tiga orang cewek lagi meskipun mereka gak ikut ujian kenaikan.
Sekolah gue full day dari Senin sampai Jumat. Sabtu belajar sampai jam 11, disambung ekskul. Di hari Sabtu sepulang sekolah itu gue ikut Paskibra dulu sampai jam 1 siang. Terus TKD dari jam 2 sampai jam 4 sore. Nah besoknya hari Minggu, TKD ada latihan lagi di sekolah jam 2 siang. Kadang kalo lagi latihan gabungan sama RBT Team, jam 7 udah stand by. Kelihatannya gue sibuk banget TIAP HARI dateng ke sekolah (atau ke GOR di hari Minggu). Tapi seinget gue, waktu itu rasa cinta ke TKD belum tumbuh.
Gue ikut ujian dua kali, yang kedua asoy lah pokoknya naik dua. Hahaha. Gak lama, gue diikutin buat kejuaraan. Masih inget banget gue, ajang Walikota Cup VII waktu itu, kebagian Fin atau Fly Class. Dari sinilah awal mula gue putus sama TKD. Gue kalah di penyisihan awal. Gak mau salah-salahan, ya. Tapi memang persiapan dan pembekalannya juga kurang. Waktu itu juga dipasangin sabuk hijau strip. Kalo gak jujur begitu, entah kenapa beban kayaknya jadi nambah. Hehe
Gue selalu mendapat keunggulan di bidang apapun yang gue mau waktu itu. Bisa dibilang masa SMP adalah masa-masa emas banjir prestasi. Tapi TKD memberikan pengalaman kekalahan pertama. Dan itu adalah tamparan mematikan bagi gue, smpai hari ini. Bukan masalah kalahnya, yang sebenarnya adalah hal wajar buat pemula. Tapi dari hal itu, membuka kartu gue yang paling rahasia. Bahwa gue gak lebih baik dari seorang pengecut yang gak mau mengakui kelemahan diri.
Dulu jaman-jamannya masih introvert banget. Pas latihan udah gak pernah dateng. Ditanya pelatih, gue bilang OSIS lagi sibuk-sibuknya. Ditanya ortu kenapa Minggu gak pernah keluar, gue bilang cape banyak tugas. Gue bener-bener gak pernah datang lagi buat latihan sampai lulus. Gue meninggalkan TKD membawa kekecewaan, mungkin terhadap diri gue sendiri (yang baru gue sadari belakangan setelah itu).
Lulus SMP, gue lanjut ke SMK Negeri yang favorit di Bandung. Lokasinya lebih jauh daripada SMP gue. Gue di jurusan Analisis Kimia, yang tugasnya  gak usah ditanya. Program empat tahun pula! Dari Senin sampai Sabtu belajar sampai sore. Minggunya ngerjain jurnal dan laporan praktek. Main juga di sela-sela pembuatan laporan, haha. Di SMK ini gue gak ngambil ekskul. Sebenarnya ikut, sih. Gue ngambil Paskibra lagi, tapi gak aktif karena menurut gue latihannya di sini gak seru. Flat banget, hehe. Jurnalistik juga bentrok karena waktunya hari Jum’at, an gue praktek di Lab. Analitik dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore.
Di SMK gue ada ekskul beladiri juga: Karate. Entah kenapa kalo Karate gue gak minat. Padahal pas demo perkenalan eksskul, mereka juga keren. Tapi ya gak mau aja. Empat tahun perjalanan lepas dari SMP, gue dibayangi serunya berkeringat dan bonyok-bonyok karena jarang berani sparing waktu TKD. Di rumah  gue sering nendang-nendang angin (kalo gak ada yang liat tapi, haha). Mungkin gue kangen sama TKD. Pas udah kelas XIII, gue bilang ke Ibu minta dicariin klub TKD deket rumah. Tapi kata Ibu nanti bayarannya gimana, ujiannya gimana. Karena pas gue SMK itu bisa dibilang masa-masa sulit lah. Bisa makan layak dan berangkat sekolah naik angkot juga Alhamdulillah. Hehe..
Sebelum wisuda, Alhamdulillah gue udah dapet kerja. PKL udah beres, kegiatan belajar-mengajar juga udah mulai lengang jadi memang udah boleh kerja kalo udah ada panggilan. Kebetulan gue dapet di perusahaan farmasi di Cikarang. Dari awal kerja di sini, gue udah bertekad nyari klub TKD yang terbuka buat umum. Gue dapet dua tuh, tapi lokasinya sulit dijangkau semua. Apalagi gue gak bisa naik motor, hahaha..
Akhirnya hampir tiga tahun udah lewat. Join ke klub TKD cuma angan-angan. Sampai akhirnya jalan terbuka. Alhamdulillah sekarang gue join di klub inceran gue waktu pertama dateng ke Cikarang. Tapi yang namanya masalah yaaaaa, ada lagi aja. Sertifikat ujian gue gak ada. Karena pas SMP itu memang dipegang sama pelatih, dengan dalih “kalo disimpen kalian suka jorok nanti ilang. Pas mau ujian jadi susah lagi nyarinya”. Akhirnya gue gue kontak lagi ke pelatih SMP. ya namanya delapan tahun gak diambil-ambil, dia bilang sertifikat gue gak ketemu. Padahal punya teman gue masih ada yang dia simpen. Iya sih dulu pas lulus gak gue ambil, mikirnya juga udah gak mau TKD lagi kan.. Gara-gara hal ini gue ngulang lagi ujiannya :’)
Ah ada-ada aja emang. Kalo aja dulu diterusin, udah blackbelt kali ya gue. Haha. Sekarang umur udah 22 masih aja begitu. Kalah sama anak kelas lima esde. Ya udah deh gak usah banyak malu sekarang mah. Anggap aja ini harga yang harus gue bayar untuk kebodohan gue di masa lalu. Padahal kalo dipikir-pikir, umur segini harusnya pikirin aja masa depan, nikah. Tapi gak tau kenapa gue pengen TKD juga bisa menjadi bagian dari masa depan gue kelak. Gue emang gak jago olahraga. Gue udah coba gym, aerobik, yoga, renang atau yang simple dan gak menyita waktu khusus, kayak lari. Tapi gak ada yang nyantol di hati.
Di klub TKD gue yang sekarang, gue lumayan nyaman sih. Meskipun menyita waktu istirahat gue sebagai analis di PT *tiiiiit* yang kadang keluar Lab-nya gak bisa ditebak jam berapa; yang masih harus terpotong waktu nyuci baju; yang buat main atau nonton sama temen jadi susah; yaang dalam sehari cuma bisa tidur 4-5 jam.. tapi gue seneng aja ngejalaninnya.
Pokoknya gue cinta  de sama TKD, meskipun belum punya prestasi di situ; teknik dan bentuk tendangan juga udah gak bagus; split aja belum perfect karena udah tua mah hareuras; ngapalin poomsae aja lemot karena masih jangar masalah kerjaan tadi sore di lab, dll. Hahaha...

1/09/2016

CHOCOLAVA PANCAKE



Hmm.. kali ini mau nge-share resep camilan favorite sebagai anak kost-an ah.. Waktu itu bikin beginian sebelum berangkat renang. haha.
chocolava pancake a la anak kosan :p
Bahannya mudah, cara bikinnya simple, hasilnya juga enak dan sehat.
Eh tapi di sini, saya gak punya alat ukur untuk menakar atau menimbang. Jadi bener-bener harus pakai perasaan buat menentukan apakah kekentalannya cukup, garamnya pas, dll. Hehe

Bahan:
Untuk kulit:
ü  Tepung terigu protein sedang;
ü  Susu cair full cream;
ü  Sedikit garam;
ü  Cocoa powder (saya pakai Van Houtten).
Isian (vla):
ü  Susu cair rasa cokelat;
ü  Gula pasir;
ü  Sedikit garam;
ü  Cocoa powder;
ü  1 butir kuning telur;
ü  Tepung maizena.

Cara membuat:
1.       Pertama-tama kita membuat vla terlebih dahulu: panaskan 500ml susu cokelat di atas api kecil, tambahkan sedikit gula dan sejumput garam!
2.       Siapkan dalam mangkuk: 2 sendok makan cocoa powder dan 2 sendok tepung maizena, larutkan dengan sedikit air!
3.       Masukkan sebutir kuning telur ke dalam rebusan susu, aduk cepat agar tidak menggumpal!
4.       Masukkan adonan cokelat dalam mangkuk ke dalam rebusan susu, aduk-aduk hingga mengental! (catatan: vla harus cukup kental untuk dapat ‘dibentuk’ pada saat dibungkus nanti. Jika kekentalan kurang, tambahkan lagi larutan maizena!)
5.       Matikan api, setelah agak dingin masukkan ke dalam kulkas!
6.       Setelah vla didiamkan di dalam kulkas agak lama, kita persiapkan untuk membuat kulitnya: larutkan sekitar 5 sendok makan terigu protein sedang dengan susu cair hingga kekentalan menyerupai adonan kulit risol!
7.       Tambahkan 1 sdm cocoa powder dan sedikit garam!
8.       Pisahkan empat perlima bagian adonan ke dalam mangkuk, tambahkan 2 sdm cocoa powder ke dalamnya, sehingga warna yang dihasilkan lebih coklat!
9.       Panaskan wajan anti lengket!
10.   Buat pola berupa garis dengan adonan kulit yang warnanya lebih muda!
11.   Setelah agak kaku, tambahkan 1 sendok sayur (sekitar 50 ml) adonan kulit yang lebih coklat di atas pola garis, lebarkan dengan cara memutar atau menggoyang-goyangkan wajan hingga merata!
12.   Angkat bahan kulit yang sudah jadi, tambahkan 1 sdm vla cokelat dingin, gulung!
13.   Lakukan seterusnya hingga adonan kulit habis!

Nah, simple dan mudah, kan? Kalo saya sih, lebih senang dimasukin dulu ke kulkas sebelum dimakan. Kadang saya tambahkan irisan pisang untuk isiannya bersama vla.
Selamat mencoba, yaaa...
Salam anak kost! ^^

1/01/2016

January 1st


Welcome 2016 ^^
Alhamdulillah masih diberi umur untuk melewati setahun kemarin. Ada banyak letupan-letupan mengejutkan di satu tahun belakangan. Hehe..
Baru nulis lagi, nih, di blog. Alhamdulillah udah bisa ngeganti laptop yang ilang, hehe. Mulai dari mana, ya? Kebiasaan deh. Suka bingung kalau harus memulai cerita.
Mungkin di postingan-postingan selanjutnya malah ada yang timingnya mundur, karena sebenernya saya masih nulis. Hanya saja medianya bukan di pc, jadi rada kagok kalo harus langsung dipublish waktu itu.
Oh, ya. Dulu saya pernah nulis di buku harian, tentang di umur sekian saya mau ngapain. Macam target jangka pendek dan jangka panjang gitu... Di tahun 2015 kemarin, ada beberapa hal yang bener-bener kejadian! Hahaha.. emang, sih, gak ‘sempurna’ dan mulus seperti apa yang dulu dibayangin. Mungkin karena kurang spesifik kali, ya. Hmm….

UMUR
TARGET
REALISASI
19-20 tahun
Kursus gitar
21 tahun: beli gitar, namanya Sigit. Kepanjangannya Sigit Ar: Si Gitar. Haha. Kursus? Ah, belajar aja ke si Baim lah..
20-21 tahun
Kursus   bahasa
21 tahun: ikutan kursus 3 bahasa sekaligus; Jepang, Jerman, Inggris. Sekarang masih? Enggak! Mahal banget, cuma kuat dua bulan L
19-20 tahun
Nerusin Tae Kwon Do
22 tahun lebih beberapa hari: akhirnyaaaa ‘berjodoh’ juga dengan club inceran dari dua tahun lalu pas awal datang ke Cikarang. How lucky I am! Setelah lebih dari delapan tahun hiatus dari olahraga ini… Udah hampir dua bulan join, nih. Betaaaah banget, meskipun jauh dan ongkosnya mahal. Hahaha yang penting berat badan naik 3 kg :P

Banyak yang ngaret, kan?! Heu…
Ini semacam ungkapan, “manusia yang berencana, tetap Tuhan yang menentukan”, hahaha.. yang pasti bersyukur aja, deh. Tapi ke depannya harus bisa ngejar target-target yang udah ditentukan dengan benar-benar biar gak pake ngaret lagi. Aamiin..
So here they are, my resolution for this year..
  1. Gak makan mie instan;
  2. Khatam Al-Qur;an MINIMAL 3X;
  3. Tulisan dipublish di media cetak;
  4. MINIMAL kesampaian sampe sabuk biru strip merah;
  5. Ikut kejuaraan dan menang;
  6. Memulai dan menyelesaikan tugas sebagai penyunting naskah dengan terampil;
  7. …..
Sebenarnya masih ada (banyak lagi), tapi yang lain mungkin belum mau saya share dengan kalian. Hehehe :P
Mudah-mudahan semua yang di atas bisa tercapai melalui proses yang baik, dan menorehkan hasil yang baik juga.  Aamiin..
Eh dari tadi belum ngomongin masalah pacar, ya? Haha lupa :/
Entah penting atau enggak saya tulis di sini, kalo kami udahan. Hehe.. Eh, udah ketulis juga tuh ya :P
Mudah-mudahan ini yang terbaik, dan masing-masing kami berjodoh dengan yang pantas dan (tentu saja) disegerakan. Hahahaha :D
Udah, sih. Cuma pengen nulis ini aja. Nanti di postingan-postingan berikutnya pasti ada cerita tentang penggalan-penggalan cerita tahun lalu. Hehe..
Sukses buat kita semua! Banzaaaaaiiii ^^