Jadi gini ya, ngelanjutin kerja setelah lulus sekolah emang udah jadi pilihan dari awal, tapi bukan berarti gak ada niatan buat kuliah. Ada bangetlah, gue juga pengen kuliah. Makanya gue kerja, biar bisa ngumpulin duit.
Passion gue buat ngambil jurusan kuliah emang rada nyeleneh kalo mengingat gue lulusan sekolah analis kimia. Kalo di UPI, gue pengen masuk Sastra Sunda. Kalo ke UNPAD, gue minat ke Sastra Inggris. Kalo ke UI, gue ngincer Filsafat. Gak ngerti deh kenapa. Yang jelas gue tertarik sama ketiganya.
Di SMK, gue bukan siswa yang bisa dibilang cemerlang. Tapi kalo di kelas, kata sebagian orang gue cukup diperhitungkan. Kalian tau, di Bandung, sekolah gue tuh cuma segelintir orang doang yang minat buat daftar (baca: berani). Gimana enggak, yang namanya jurusan analisis kimia tuh jauh lebih kedengeran garang dibanding SMA jurusan IPA. Bukan sebatas kedengerannya doang, buat ngejalaninnya pun emang berat. Ibarat masuk kandang singa. Susah kan? Tapi lebih susah lagi keluarnya !
Di SMK, gue bukan termasuk orang yang ambisius dalam mengejar prestasi. Bukannya gue cepet puas dengan hasil yang udah didapat, ya. Try to be the best sih iya. Tapi kompetitor di sekolah gue... edan bangtlah, luar biasa!
Sering gue mikir, orang lain bisa kok dapet lebih. Kenapa gue juga gak berusaha kayak mereka; melakukan usaha lebih. Kalo dibilang cape, tiap hari pulang sore, semuanya juga sama!
Kalo ngeles: rumahnya jauh, cape di jalan.. yang lain banyak kok yang lebih jauh!
Itulah bodohnya gue. Selalu brpikir alasan, bukan solusi. Disebut nyesel, iya sih. Tapi buat apa? Yang penting sekarang gue tau itu salah, dan bisa jadi panduan buat ke depannya supaya gak ngulang salah yang sama.
Gue cuma pengen mengembangkan diri di luar, jadi ngeluangin sedikit waktu. Makanya gue gak mau terlalu serius belajar. Maksudnya, abis-abisan. Kata alumni, masuk SMKN13 tuh (akhirnya disebut juga, hhi), matak kolot di sakola. Alias bikin tua di sekolah. Selain merampas masa muda, sekolah pagi sampe hampir magrib seminggu enam kali, program empat tahun pula!
Tapi gue bersyukur banget, jerih payah selama empat tahun sekarang terasa manis. Mudah-mudahan bisa ngebahagiain orang tua gue yang udah total berusaha ngebiayain sekolah yang gak murah ini, aaamiiin.
7/26/2013
Ini baru galau!
7/22/2013
Promo, haha
Hey follow tumblr gue yah:
nabillaphrodite.tumblr.com .yakali aja kalian males baca di sini mah tulisannya panjang-panjang. Haha
Salam kenal ;))
6/02/2013
(Masih) Minor
Awal mula aku menggandrungi music Underground, saat aku
duduk di bangku SMP. Saat itu, penggemar Underground di lingkunganku belum
banyak seperti sekarang. Kalaupun ada, berarti itu hanya mereka yang
benar-benar menyukai Underground. Bukan fans karbitan yang seperti sekarang
marak menjamur. Apalagi untuk perempuan sepertiku. Tampaknya mmenyenangi music
Underground seperti sebuah anomali di lingkunganku.
Karena aku menggandrungi underground dengan sendirinya,
bukan ikut-ikutan, aku tetap kukuh dengan apa yang aku senangi. Tak terpengaruh
hinaan dan pandangan miring sekitarku. Seperti slogan salah satu komunitas
kebanggaanku, “Bandung Death Metal” yang berbunyi PANCEG DINA GALUR, yang
filosofinya aku pegang hingga kini. Selama tidak merugikan siapapun, aku akan
tetap berteguh pada apa yang aku genggam.
Empat tahun berlalu. Saat aku duduk di bangu SMK, pergerakan
Underground di Bandung sudah makin menggeliat. Tentu saja beriringan dengan
itu, aku mendapat teman-teman yang ‘sealiran’ denganku. Senang, karena di
antara lingkaran putih ini masih ada pasukan hitam yang nyambung denganku. Meski
sudah empat tahun bergelut dalam hari-hari penuh distorsi, aku masih belum
memiliki kontribusi berarti untuk dunia underground :( Sejauh ini aku hanya
mampu menikmati, belum bisa menjadi pelaku yang ikut memberi warna untuk music
ini.
Sekarang, setelah melewati empat tahun masa putih abu-abu,
aku mendapatkan pekerjaan di salah satu perusahaan farmasi terbesar di
Indonesia. Tepatnya di Cikarang, Bekasi. Tadinya aku berharap, aku bisa
berkarya di sini untuk music Underground. Tapi sejauh ini, aku malah tidak
menemukan satupun teman yang klop dalam urusan ini.
Seperti berada di titik balik suatu masa. Return to zero, maybe. Di mana untuk ke
dua kalinya aku merasa minor di sini. Tujuh tahun sudah aku tumbuh bersama
alunan music brutal. Seiring bertambahnya usia, tentu banyak perkembangan dalam
diriku. Aku terus mencari dan menjalani semacam proses pendewasaan diri. Meski
banyak berubah, tetap saja kesukaanku terhadap music Underground tidak akan hilang :)
Indie di mata Anda
Sedari kecil saya sudah menggemari musik. Bahakan sebelum
saya mengerti musik, Ayah saya sering memutar lagu-lagu tradisional sepeti keroncong
dan music etnik Jawa. Padahal kami asli dari Sunda :) Saya tumbuh dan
dibesarkan dalam lingkungan yang menyenangi music. Walaupun di antara keluarga
saya tidak ada yang menjadi musisi atau sejenisnya, tapi kami sangat menikmati
hampir segala jenis music.
Waktu umur tiga tahunan, saya didaftarkan ke TK menyanyi
yang merupakan salah satu stasion radio di Bandung, RRI. Saya memang senang
menyanyi dari dulu, dan itu berlanjut hingga sekarang. Tapi selama ini saya
mengalami perkembangan dan transformasi genre music yang saya minati. Sejak
SMP, saya justru menggandrungi music underground. Dan kerennya, orang tua saya
tak pernah mempermasalahkan :) . Memang, sih, sebelumnya Ayah sempat rada
menentang dengan hobi saya. Tapi akhirnya beliau mengerti.
Sebenarnya saya juga menyenangi lagu pop, tapi yang jalurnya
indie. Entah mengapa, saya lebih respect pada band-band indie dibandingkan
band-band yang menjamur di permukaan dan mengejar pasar. Band-band indie itu
memiliki idealisme tinggi dalam bermusik. Mereka berkarya sesuai kata hati dan
kepuasan mereka. Bahkan jika ditelusuri lebih lanjut, mereka lebih banyak
mengukir prestasi dibanding kontroversi :D
Setelah saya besar, saya masih menggandrungi music indie,
baik yang cadas maupun yang pop. Saya dan kalian tahu, sampai detik ini dunia
music tanah air masih didominasi oleh band-band yang notabenenya mengejar pasar
dan popularitas. Sah-sah saja, sih. Sementara band-band yang mengambil jalur
indie biasanya hanya santer di kalangan tertentu saja. Begitupun yang terjadi
di tempat saya bekerja sekarang.
Di sini, rekan-rekan saya juga banyak yang menyukai music.
Ya, kita tahu bahwa hampir semua orang pasti menyukai music. Tua muda, pria
wanita, kaya miskin.. tanpa music akan terasa hampa. (aciyeee :p). Tapi di
sini, rekan-rekan kerja saya cenderung menyukai music yang (menurut saya)
mainstream. Saat mereka tahu saya menyukai lagu-lagu indie dibandingkan lagu
yang belakangan lagi ngetrend, mereka justru menganggap saya aneh.
Bagi mereka, saya sebagai orang Bandung seharusnya lebih up
to date mengenai lagu-lagu yang sedang hits. Karena di Bandung banyak sekali
musisi yang ngetop juga handal. Tapi mereka juga mengaku maklum, karena di
Bandung komunitas indienya banyak dibandingkan di sana (Bekasi).
Lalu bagaimana pandangan mereka terhadap music indie?
Ternyata, selain menganggap saya aneh, mereka juga ada yang
bilang anak indie itu alay. Entah atas dasar apa, mungkin bercanda atau apa.
Hehe. Pendapat mereka mengenai music underground? Gak usah tanya, saya juga
malas bertanya itu pada mereka. Pandangan mereka terhadap music indie yang tak
cadas pun sudah minor, apalagi underground?! :D
Oh ya, salah satu rekan kerja senior saya di sana ada yang
mengoleksi banyak lagu yang bagus. Ada yang hits jadul, banyak pula yang sedang
ngetrend. Saat dia bertanya pada saya, “Kamu tau lagu-lagu Glee gak, Bel?”,
saya jawab “Glee? Siapa itu?” , dan dia hanya mengernyitkan kening sambil
tersenyum heran.
Sebenarnya saya pernah beberapa kali membaca nama “Glee” di
layar kaca saat seorang kakak kelas memutar DVD lagu-lagu berbahasa Inggris.
Rupanya si Glee itu memang sudah terkenal, ya. Dasar saja saya yang kurang gaul.
Hahaha.
Di lain kesempatan, rekan saya itu kembali membahas Glee.
Ternyata Glee itu semacam serial film drama musical. Saya yang memang tidak
begitu suka menonton, pada akhirnya tak menjadi heran kalau tidak tahu mengenai
keberadaan si Glee itu. Para pemain dalam serial itu merupakan orang-orang yang
lolos casting audisi untuk mengisi film tersebut. Akan tetapi, banyak pula
artis lain yang sudah tenar ikut berpartisipasi dalam film itu, misalnya
Britney Spears. Dalam drama musical itu, para pengisi acara banyak yang merecycle hits-hits penyanyi/band papan
atas dunia dengan aransmen berbeda.
“Kalau suka music, harusnya tahu Glee”, ujar rekan kerja
saya itu.
Saya tersenyum simpul mendengar pernyataannya. Saya tak mau
kalau harus berdebat hanya karena opininya itu. Lantas, adakah standar untuk
mengetahui seseorang itu layak disebut pecinta music? Bukankah music itu
universal? Bagaimana dengan orang-orang yang sepanjang hidupnya bergelut dengan
music tradisional, tanpa pernah tersentuh oleh lantunan music Barat misalnya;
apakah mereka juga tidak layak disebut penggemar music? Mereka bahkan lebih
dari penyuka, melainkan orang-orang yang mencipta karya.
Sementara mereka yang lebih menggandrungi music mainstream
justru memandang pelaku music di jalur indie dengan sebelah mata. Tak mampu
merasakan apa yang kami rasakan. Hanya menilai kesuksesan berdasarkan
ketenaran. Memandang kualitas hanya dari segi kuantitas.
#GoIndieGo
my blackclouds :*
Hari-hari berlalu, guys. Dan kabar dari Kalbe belum juga
berembus. Waktu itu saya nginep di rumah Novi di GBA. Karena besoknya mau foto
kelas buat yearbook di Balkot pagi-pagi sekali. Kalo saya berangkat dari rumah,
udah pasti gak bisa tepat waktu. Udah mah gak ada yang nganterin. Maklum aja,
mbloo K
Yang nginep di rumah Novi banyakan ternyata. Makin sini,
kami sekelas jadi makin akrab. Walaupun sebelumya sempat beberapa kali ada
konflik internal, tapi itu gak pernah sampe berkepanjangan. Sempet ngerenung, sih.
Kenapa keakraban kita baru terjalin sekarang-sekarang; saat kita akan terbang
lepas memilih jalan kehidupan kita yang sebenarnya. Memang, sih, kedekatan yang
makin menjadi-jadi ini gak menghinggapi kita bertigapuluh. Tapi lihat, dua
tahun lalu waktu kita pertama kali duduk di ruangan dan waktu yang sama.
Wajah-wajah itu emang gak asing, wajah yang dua tahun belakangan kita lihat di
sekolah. Tapi pribadi kita satu sama lain seolah menolak untuk dekat, hanya
karena ego untuk mempertahankan teman-teman lama kita di kelas sebelas.
Tapi pada akhirnya kita tahu, Tuhan tidak pernah gagal
merencanakan. Betapa beruntungnya kita bertemu di kelas dua belas. Kalian juga
belum lupa dong, gimana paniknya kita saat ada kabar kalo kelas tiga belas
bakal dipecah lagi. Kenapa panik? Bukannya dulu kita sama-sama menolak buat
bersama? Tapi kita manusia yang punya rasa. Setelah setahun menjalani segala
proses bareng-bareng, kita jadi saling sayang satu sama lain. Kita juga lapang
nerima kekurangan teman-teman yang lain.
Kalau kita adalah butir-butir tasbih yang bernyawa, mungkin
sekarang kita tahu bahwa benang tipis yang menyambungkan jarak antara kita ini
bakal segera terlepas. Sebentar lagi kita akan berhamburan, mengikuti garis
nasib yang membawa kita pada takdir masing-masing.
Saya beruntung pernah
kenal, bahkan didekatkan dengan orang-orang seperti kalian. Kalian hebat bukan
karena semata-mata yang berprestasi. Tapi juga untuk yang tegar walaupun banyak
dihina, yang tiis walau banyak masalah, yang
kuat walau nilai udah di ujung tanduk, yang tabah walau tempat PKLnya bikin ngenes.
Kalian luar biasaaa :*
Saya sayang kalian,guys :*
Meskipun kita (katanya) alay, omongannya mesum melulu, pada
gak tau malu, tapi saya dan kalian yang lebih tahu bagaimana kita yang
sebenarnya. Ingat guys, siapapun yang
lebih dulu sukses, masing-masing dari kita punya andil dalam keberhasilan itu.
Semua cuma masalah waktu. Lagipula, tolok ukur suatu keberhasilan itu relatif.
Kerja di perusahaan impian; kuliah di universitas negeri; menyelesaikan buku
karangan; jadian sama gebetan; move on dari mantan; bisa bangun pagi; mutihin
kulit; ninggiin badan; solat tepat waktu; nurunin berat badan; kebeli hape
baru… bisa jadi buat sebagian orang, itu adalah salah satu dari
keberhasilannya. Yang susah payah diusahakan, dengan doa gak pernah putus. Tapi
tetap, ada orang lain yang (kita sadar atau enggak) ikut andil dalam
pencapaiannya itu.
Bersyukurlah kita
punya teman yang pribadinya bermacam-macam. Bersyukurlah kita pernah punya masalah.
Karena dari mereka, kita belajar. Kita
belajar sabar. Kita belajar menghargai.
Menghargai apapun; waktu, perasaan, kebersamaan, bahkan perpisahan.
Thanks guys. I’m glad to be part of you. I know that I still
can’t give the best for this class. I never gave a meaningful contribution for
all of you. At least, someday you’’ll remember that I’ve ever be your friend. I
love you :*
thanks, God
Sendirian di pojok kamar kosan.
Kadang suka terharu. Kenapa Tuhan begitu baik sama saya?
Saya yang sering lalai beribadah. Saya yang jarang ingat untuk bersyukur. Saya
yang bergelimang dosa. Saya yang dalam sebulan ngajinya bisa dihitung jari.
Jika tertimpa musibah, saya malah sering mengumpat. Bukannya
merenungkan salah saya di mana. Jika diberi nikmat, saya terlena. Oh, Tuhan.
Ampuni saya yang hina ini. Jangan berhenti bemberkahi dan merahmati saya dan
keluarga saya, amiin…
Tuhan mempermudah segala urusan saya. Bahkan yang saya tidak
sungguh-sungguh inginkan, diberikan-Nya pada saya. Saya sungguh beruntung.
Segala yang terjadi pada kehidupan saya, saya yakin bukan suatu kebetulan.
Adalah Tuhan, yang Maha Mengatur dan Maha Menentukan.
Tuhan menjawab doa-doa saya, meski tak selalu pok torolong. Bahkan, doa-doa saya jaman
dahulu (yang saya malah gak inget), Tuhan berikan kini. Ia lebih tahu kapan doa
kita pantas dikabul. Karena Tuhan akan memberikan yang kita butuhkan, bukan
semata yang kita inginkan.
Terima kasih, Ya Rabb, atas semua yang Kau berikan pada saya
selama ini. Ampuni dosa-dosa saya, juga orang tua saya. Berkahi kami, ampuni
kami, damaikan kami dalam kasih-Mu.
Amiin ..
5/04/2013
Dua Sisi
Riana mengurung dirinya di kamar sejak pagi. Ia bahkan tak pergi ke kantor. Semua di luar kebiasaannya. Semalam
ia berdebat hebat dengan Aminah, orang tua satu-satunya yang ia punya setelah
kecelakaan hebat di udara tahun 2005 menghancurkan tubuh Rosadi , suami Aminah,
yang juga menghancurkan segenap perasaan Aminah dan keluarganya sampai kini.
“Aku ingin sekolah di STF, Bu.” Kalimat itu terlontar saat
Riana dan Aminah tengah menyantap makan malam mereka semalam.
Aminah terbatuk. Lalu menyeka mulutnya. Kemudian meneguk
habis air putih di gelasnya yang diisi tak penuh. Mengambil napas dalam. Mencoba
tenang.
Riana mengunyah makanannya pelan. Sebenarnya enggan, tapi
dipaksakan untuk dihabiskan. Sementara wanita baya yang duduk de seberangnya
menatap lekat.
“STF? Kenapa tidak mencari yang sealur dengan kompetensimu
di sekolah saja? Bukankah akan lebih menunjang pada kariermu?” Tanya Aminah dengan
nada selembut mungkin.
“Analisis kimia lagi? Aku jenuh, Bu. Semuanya begitu
membuatku pusing. Sepertinya aku tidak cocok di situ” kata Riana memberi alasan.
“Tidak cocok? Selama ini kamu bahkan selalu menduduki peringkat lima besar di kelas. Kami tahu kamu mampu,
Nak.”. Aminah menyebut kata kami.
Riana menghela napas panjang dengan pelan, berharap tak
terlihat ibunya, “Selama ini aku hanya berusaha bertanggung jawab atas jalan
yang sedang kuhadapi, Bu. Berharap segera selesai, tapi dengan nilai yang baik.
“Tidakkah kalian
lihat, dari kelas satu aku berjuang setiap hari sampai sering kali tidur
kelewat malam untuk anak seusiaku, karena harus berkutat dengan laporan dan
tugas yang begitu banyak? Setiap hari selama empat tahun hampir selalu pulang
sore, dan itu pun masih harus menyelesaikan tugas untuk esok harinya.
“Jangankan bermain dengan ‘normal’ seperti teman lain yang
sebaya, belajar untuk pelajaran esok hari pun sulit, karena hari ini aku pasti
megerjakan tugas untuk esoknya. Begitu seterusnya. Kerap kali aku mendapat
remedial karena nilaiku di bawah standar yang ditentukan. Aku memang tak
sendirian, teman-teman lain pun banyak yang senasib sama denganku dalam hal
itu. Bahkan banyak di antara mereka yang tiap tahunnya berguguran, menyerah
pada keadaan yang menekan kami habis-habisan. ”
Segalanya tertutur lancar dari bibir Riana. Hatinya mengalirkan
perasaan yang lama ingin membuncah, dan kini hampir semuanya seolah akan segera
tertumpah habis dan menjelma lewat untaian kata-kata. Riana memberikan jeda. Tapi belum ada tanda Aminah
akan berbicara. Aminah seolah paham masih banyak yang ingin disampaikan oleh
putrinya.
“Ibu tahu; aku senang membaca. Membaca apa saja. Tapi tidakkah
Ibu lihat kini; aku hampir jarang punya waktu luang untuk membaca. Buku yang Bi
Reni belikan sebulan lalu pun bahkan belum terjamah. Novel yang Ibu belikan waktu itu bahkan belum
tamat aku baca. Ya, mungkin terlalu naif berbicara seperti ini. Terlalu
berlebihan untuk berkata bahwa aku tak punya cukup waktu, bahkan hanya untuk
sekedar membaca.
Ibu juga tahu aku ingin menulis. Dan kita tahu bahwa untuk
menulis, kita harus sering membaca. Yang jelas, menulis buatku lebih
membutuhkan waktu dan suasana yang…kondusif. ”
Riana menarik napas, untuk yang ini, suaranya sempat
tercekat sebentar di tenggorokan. Tapi ia cepat menguasai kembali meski agak
tersendat, “Tapi di luar semua itu, apa kalian
sadar, kita jadi jarang berkumpul meski semua berada di rumah. Atau mungkin,
hanya aku saja yang merasakan. Karena kalian
merasa masih memiliki Dean? Sementara aku? Aku yang lebih banyak menghabiskan
waktu di sekolah, pulang ke rumah hanya untuk mandi, makan, lalu pergi ke kamar
dan berkutat dengan tugas sampai ketiduran… ”
Aminah berusaha menahan guncangan yang sedang menyerang
pertahanannya. Ia tak ingin terisak, setidaknya di hadapan Riana. Matanya memanas,
tapi dengan sebaik mungkin ia coba menguasai diri. “Jadi kamu menyesal?”
Riana tak kaget dengan pertanyaan itu. Seolah sudah menduga.
“Tidak.” Jawabnya mantap.
“Lalu apa maksudmu berkata demikian? Mengapa tak dari dulu
saja dibicarakan?”
“Aku sudah bilang, aku hanya ingin bertanggung jawab. Aku tak
ingin berhenti untuk menyelesaikan apa yang sudah kita mulai. Ya, kita. Kalian bertanggung
jawab membayar biayaku sekolah di sana selama empat tahun. Dan aku membayarnya
dengan… yah, kalian bisa lihat
sendiri. Apa yang aku ceritakan dari tadi juga cukup menggambarkan betapa aku
juga harus membayar mahal sebuah pilihan yang telah ditetapkan sebelumnya.”
Aminah menggeleng. “Kamu merasa berat karena dulu analisis
kimia itu sama sekali baru bagimu. Ibu yakin, di tahun-tahun setelahnya,
bebanmu tak seberat pertama kali sekolah. Lagipula lihat, belum genap sebulan
lulus, kamu sudah mendapat panggilan kerja di perusahaan ternama. Bekerja di
laboratorium besar dengan gaji memadai, seharusnya kamu bersyukur untuk itu. Dulu
kamu membayar mahal untuk bisa seperti sekarang ini, dan sekarang biarkan nasib
yang membayar pantas atas apa yang kauperjuangkan selama ini”
“Aku punya cita-cita, Bu..”
“Jangan mengorbankan apa yang sudah kamu dapat dengan susah
payah, demi seseuatu yang belum tentu lebih baik”
Riana mengangkat dagunya yang sedari tadi melunglai. “Ibu
meragukanku? Apa selama ini Ibu menganggap apa yang menjadi hobiku hanya
iseng-iseng belaka?”
“Semua butuh pembuktian, Nak. Dari semuanya, bukti yang
paling jelas adalah apa yang kaudapat.”
“Oh, Ibu benar-benar meragukanku? Karena tulisan-tulisanku
belum pernah ada yang dimuat? Karena setiap lomba menyanyi aku tak pernah juara
satu? Karena tak pernah bertahan lebih dari tiga bulan dalam band-band yang
pernah aku ikuti?” kali ini Riana hampir lepas kendali. Lupa denagn siapa ia
tengah berbicara.
Aminah tak kalah sengit. “Selama ini Ibu selalu mendukung
penuh apa yang menjadi hobimu. Ibu membelikan komputer untukmu menulis,
mengijinkanmu berlatih band, datang ke konser-konser underground yang kamu
senangi, menyempatkan hadir saat kamu lomba menyanyi… Ibu selalu mengerti
dengan kesenanganmu. Selama itu positif, Ibu bahkan tak membatasinya. Tapi kamu
harus membuka mata, dunia ini penuh persaingan. Apa kamu akan bertahan hidup jika
seperti itu terus?”
Mata Riana memerah. Ia tak tahan lagi. “Selama ini, aku
sudah menuruti apa mau kalian. Sekolah
di bidang analisis kimia dengan bertanggung jawab. Aku bersyukur, berkat
pilihan kalian kini kita semua bisa menuai hasilnya. Terimakasih. Tapi kumohon,
untuk kali ini biarkan aku yang menentukan pilihanku sendiri.” Air matanya tumpah.
Aminah tetap pada pendiriannya. “Kalau mau meneruskan
sekolah, pilihlah yang menunjang terhadap karirmu. Ibu hanya tak ingin ada yang
menyesal nantinya. Lagipula mau jadi apa kamu sekolah di STF? Ibadahmu saja
bahkan masih compang-camping. Mau menjadi atheis? Mau murtad? Jangan mempertaruhkan aqidah demi mengejar
apa yang kamu inginkan!”
Kuping Riana panas. Ia tak ingin lebih jauh lagi. Ia beranjak
ke kamar, meninggalkan Aminah yang duduk menatap beku pada makan malam mereka
yang telah lama dingin.
Sepanjang malam, Riana terjaga dalam redupnya cahaya yang terpancar
dari balkon di luar kamarnya. Perasaan kontra logika. Di satu sisi, ia
membenarkan perkataan ibunya. Di sisi yang lain, ia meyakini apa yang menjadi
tekadnya adalah benar.
Memangnya apa yang
salah dengan bersekolah di STF?
Mau jadi apa setelah
lulus kalau memang jadi sekolah di sana?
Kenapa banyak yang
meragukan, sih, kalau orang bisa hidup dari menulis atau menjadi musisi? Aku yakin,
seorang penulis atau musisi juga pernah mengalami masa-masa payah. Mereka tak
mungkin langsung punya skill tingkat dewa seperti pencapaiannya sekarang secara
instant.
‘Kamu merasa berat
karena dulu analisis kimia itu sama sekali baru bagimu’, kata Ibu. Apa iya, ya?
Kalau aku masuk STF nanti, apa aku juga akan merasa begitu? Karena filsafat
juga baru buatku.
Tapi aku ingin belajar
filsafat. Aku punya cita-cita. Bukankah, kita hidup untuk mencapai apa yang
menjadi tujuan kita? Dan sebagian dari tujuan hidup, terangkum dalam apa yang
dinamakan cita-cita? Kalau begitu, aku harus mengejarnya.
Selama empat tahun aku
ditempa di sekolah analisis kimia, aku bisa menuai hasilnya kini. Aku bisa
memperoleh uang dari keterampilanku. Bagaimana kalau uangnya aku kumpulkan
untuk biaya sekolah di STF nanti? Itu artinya, sekolahku selama empat tahun ini
telah turut andil dalam mewujudkan cita-citaku. Ya, kan?
Tapi, berapa lama aku
akan bertahan? Sejauh ini gajiku memang cukup, tapi kalau untuk sekolah, berapa
lama aku harus mengumpulkannya? Apa harus puas dengan bekerja seperti ini? Kalau
aku ingin naik pangkat, seharusnya aku meneruskan sekolah yang sesuai dengan
keahlianku; benar kata ibu. Untuk yang ini, aku bisa mengambil kelas karyawan. Aku
hanya butuh titel, ha! Sementara jika di
STF, aku harus mengambil kelas regular karena aku ingin menikmati tiap detik
apa yang disampaikan dosen di kelas, mengikuti club teater, ah…
Jadi aku harus
bagaimana? Memang, sih, aku punya beberapa buku bacaan tentang ilmu dasar
filsafat. Mungkin dengan sering membacanya dan menemui teman untuk berdiskusi,
aku bisa menyerap ilmunya. Kalau analisis kimia? Aduuuuh !!!!!!!!!!!!!!
Pertanyaan demi pertanyaan terus datang mengeruhkan pikiran
Riana. Ia berguling ke kiri, berpaling ke kanan. Tapi pikirannya kian kusut. Matanya
dipejam. Mulutnya merapal kalimat-kalimat indah, ditujukan pada Yang Maha Membolak-balikkan
hati manusia.
Sementara di ruangan lain, tetes air mata jatuh dari seorang
wanita paruh baya yang bersimpuh menghadap kiblat. Memohon belas kasih Tuhan
agar jangan berhenti memberkatinya dan kedua belahan jiwanya yang tersisa,
maupun belahan jiwanya yang lain yang telah menghadap-Nya.
Langganan:
Postingan (Atom)