9/27/2015

Petrichor

p e t r i c h o r

Nite Dear

Kepada malam,
Telah kuserahkan sepenggal kisah sunyi masa lalu
Sayatannya masih menyisakan luka tanpa pernah beku 
Aku hanya bisa membisu 
Menelan luka biru 
Tanpa bisa membawa kembali senyum yang pernah kutitipkan pada senja 
Karena ia mungkin lupa 
Menganggap aku tak pernah ada


16-08-2012 


*nemu puisi ini setelah bongkar-bongkar file di PC.
tulisan tiga tahun lalu...

9/25/2015

Rupa-rupa Warnanya

Kamis, 24 September kemarin gue ke Bogor. Start dari kosan gue di Cikarang. Sendirian lhooo ^^
Setelah bertanya, rutenya seperti ini: dari Cikarang naik elf 50 ke Bekasi Timur. Dilanjut naik bis jurusan ke Bogor sampai Terminal Baranang Siang. Karena pertama kalinya ke Bogor naik angkutan umum, bukan Nabilla namanya kalo gak bingung.
Setibanya di Bekasi Timur, banyak banget bis-bis yang akan berangkat ke berbagai tempat, khususnya Jakarta. Preman, calo, pedagang asongan, dan calon penumpang berjejal membuat pemandangan terkesan kumuh di bawah matahari menjelang siang.
"Ke mana, Neng?" tanya seorang calo berbadan tambun. Kulitnya gelap dengan wajah tak bersahabat. Caranya bertanya seperti ngajak gue berantem.
"Bogor, Bang." jawab gue cuek.
"Naik, naik!" dia menggiring gue ke bis yang paling depan.
Gue mengekor di belakangnya. Lalu gue melihat calo yang lain. Iseng gue bertanya, "Bogor, Bang?" tanya gue sembari nunjuk bis yang dimaksud Calo Pertama.
 "Enggak, Neng. Bukan yang itu," dia lalu menepuk pundak gue, nyuruh balik arah.
Calo Pertama nyolot ke Calo Kedua, "Eh t*i lu, ngapain so pahlawan?!"
"Ya kan dia mau ke Bogor. Ngapain lu suruh naik yang itu?"
 Mata si Calo Satu nyalang.
 Gue gak kalah berang, "Lu yang bener dong kalo ngasih tau!" teriak gue sambil berlalu.
"Halah padahal dia naik tuh kalo lu gak ngasih tau. Sok pahlawan, t*i lu!" teriaknya ke Calo Kedua. Mengalahkan bisingnya suara kendaraan yang lalu lalang.
Preman Kedua berlalu tak peduli. Lalu ngobrol dengan ibu-ibu penjual minuman di depan gue. Mereka berbahasa Batak, gue kira. Gue melempar senyum ke si Calo Kedua sambil sedikit mengangguk, sebagai bentuk respect ke dia.
Dia nyamperin. "Makasih tadi, Bang."
"Sama-sama, Neng. Hari gini orang nyari duit banyak yang begitu; gak jujur" katanya. Mukanya sangar. Perawakannya kurus dengan tattoo di lengan kanan. Di lehernya tergantung kalung salib.
"Iya. Bisa brabe kalo tadi saya naik. Haha."
Terus dia nanya mau ngapain ke Bogor. Nanya juga kelas berapa sekolahnya. Haha. Meskipun sangar, tapi nampak gak berbahaya atau kurang ajar. Barangkali dia preman yang masih takut dengan Tuhan. Hehe
Di kejauhan, bis menuju Bogor datang. "Sini, Neng. Yang ini," katanya.
Dan gue pun naik bis yang benar. Ke Bogor pun selamat dan senang. Haha. Makasih Abang Calo yang baik. Dari sini gue tau, gak semua orang yang kelihatannya buruk itu jahat. Malah banyak kok, yang keliatannya baik-baik, justru lebih jahat dibanding penjahat..

No Regret

Ada hal yang mengusik gue beberapa waktu ke belakang.
Pasca hilangnya notebook gue, gue sempet ngerasa tenang karena gue pikir, gue masih punya back up salah satu data terpenting di flashdisk. Tapi setelah gue cari, jangankan data penting itu. Data lain yang gak begitu penting pun gak ada!
Sebenarnya, isinya cuma tulisan. Yang bahkan pernah bikin gue diputusin (waktu itu masih punya pacar) gara-gara isinya. Judulnya 'Ceri'. Kira-kira dibuat sekitar Februari 2015. It isn't the nice one, but the honest one. Gue kesel karena gak mungkin bisa bikin tulisan yang sama persis di dunia ini.
Ceritanya itu cerpen. Yup, cuma cerpen. Tapi cerpen terjujur yang mengalir dari diri gue. Tentang mengagumi seseorang yang bahkan gue gak kenal dia siapa. Gue mengaguminya karena dia punya nama yang bagus. Cuma karena itu? Haha. Sepele banget, ya. Bahkan ketika gue diputusin, gue gak mengelak. Gue cuma bilang, "gue menulis apa yg pngen gue tulis. kalo menurut lo gue salah, gue minta maaf."
Ga ada sesal. Justru plong karena gue bisa menelurkan kejujuran yang selama ini mengendap dalam hati. Meskipun cuma lewat tulisan. Walaupun gak akan pernah sampai ke orang yang bersangkutan.
Apa mau buat?        

5/18/2015

Libur dan Sakit; Dua Hal yang emmmh



Liburan empat hari dan gue sakit. Sebenernya gue masih bisa lincah seperti biasa. Hanya saja harus rada menahan diri sedikit. Tubuh gue sekarang ini sedang menjadi inang bagi suatu virus menyebalkan –dan rada berbahaya kalo gak segera dihandle. Ini bermula dari kejadian gue nginep dengan terpaksa di salah satu temen kerja. Gue gak pernah membiasakan diri nginep-nginep kalo gak terpaksa. Hiks
Gara-gara kondisi badan yang gak fit, alhasil gak mampu mempertahankan kekebalan tubuh. Tapi gue yakin bentar lagi juga sembuh. Insha Allah. Waktu Jumat siang udah diperiksain. Dan gue membawa oleh-oleh berupa obat-obatan yang harus gue habiskan tentunya.
Menilik sisi baiknya adalah gue jadi teratur makan. Karena harus minum obat tiga kali sehari, otomatis pola makan gue jadi disesuaikan. Yah, barangkali Allah ngasih gue sakit begini biar gue membenahi apa yang selama ini salah di gue. Makan berantakan, istirahat semaunya –sesempatnya. Dan mungkin juga ini adalah jalan biar gue bisa memperbaiki dan meningkatkan berat badan yang kian mengkhawatirkan ini. Hahaha
Sebelumnya, makan teratur adalah hal langka bagi gue. Gue males banget makan kalo gak laper-laper banget. Apalagi kalo udah menekuni sesuatu dengan serius, bisa bablas deh. Setelah gue pikir-pikir, mungkin itu adalah salah satu sifat kufur nikmat yang udah gue lakukan. Di saat orang lain ada yang gak makan karena gak mampu, gue malah gak makan karena gak mau. Astaghfirullah, semoga Allah mengampuni.
Aneh, sih. Saat gue merasa gak laper tapi udah waktunya makan, gue harus benar-benar memaksakan diri untuk makan. Apalagi kondisi seperti sekarang, saat isi kulkas nyaris kosong oleh bahan mentah, hanya ada telur (andalan gue yang kemarin dipantang sementara sama dokter) dan camilan, maka gue harus nyari makan ke warteg atau apapun itu tempat yang menjual sesuatu yag bisa gue makan. Pokoknya harus, karena gue niat lillahi ta’ala pengen sembuh. Sebut saja ini bagian dari ‘perjuangan’ buat sembuh. Hehe
Karena sakit, gue gak pulang ke Bandung. Bahkan gue gak ngabarin keadaan gue yang begini ke keluarga gue. Kegiatan lain yang gue lakukan selama liburan ini adalah mewarnai gambar dan mencuci baju. Beneran deh, gue seneng banget dari Jumat sampai Sabtu nyuci pakaian segambreng. Bahkan Minggu mencuci baju bekas gue pakai malemnya. Kenapa senang? Karena gue bisa menjemurnya langsung di bawah sinar matahari. Jadi sehari aja udah kering dan gak lembap, gak kayak nyuci di hari kerja yang gue jemur di kamar mandi. Yeeeay! *jangan berpikir gue aneh*
Alhamdulillah gue bisa mengisi libur dengan hal-hal yang bermanfaat dan gak ngabisin banyak uang (walaupun minim hiburan). Meskipun sedang gak sehat, gak berarti gue harus bergelung terus di kasur kayak naga yang udah kenyang. Kalo kata Bu #ESO mah; Kalau kita berpikir sakit, maka kita akan merasa sakit. Dan itu adalah kalimat yang gue amini sampai sekarang –dan mungkin selamanya. Tetap gembira, selagi kita bisa J
Salam.

5/09/2015

Syauqi Alief Attar



Ada yang kenal dengan Syauqi Alief Attar?
Gue udah pernah search nama itu di Om Gugel. Gak nemu informasi yang memuaskan, ah! Pentingkah dia? Hmm, sebenarnya gue cuma penasaran aja, sih. Atau jangan-jangan, nama itu gak pernah ada. Hanya nama samaran, atau nama pena.
Kenapa gue nanya si Syauqi itu?
Seperti biasa, kita bertele-tele dulu lah sebentar:
Waktu itu sekitar kelas empat atau lima SD. Karena hanya memiliki edikit sekali buku bacaan di rumah, maka gue akan membaca apa saja selama menurut gue isinya menarik. Mulai dari cerpen di koran Minggu, sampai buku pelajaran SMA milik salah satu kakak sepupu gue.
Khusus untuk buku pelajaran, gue paling senang sama Bahasa Indonesia karena biasanya memuat beberapa cerpen dan dialog singkat. Ada juga puisi, yang emang gue seneng banget sampai-sampai gue ngumpulin karangan puisi gue di salah satu buku khusus. Walaupun dalam membuat puisi gue Cuma bisa bikin yang standar tanpa banyak makna kias, buat gue itu semua adalah hiburan yang menyenangkan.
Di antara buku-buku kakak gue yang sering gue kepoin itu, ada juga majalah bulanan atau mungkin tri wulanan sekolahnya. Isinya macem-macem. Ada profil guru dan atau murid pilihan, kiriman puisi atau cerpen, dan dari majalah itu pula untuk pertama kalinya gue tau istilah “anekdot”, hehe...
Gue seneng berlama-lama di rubrik puisi. Ada puisi kiriman murid, ada pula yang kutipan dari penyair tanah air. Kadang suka berkomentar sendiri dengan bacaan yang ada di situ. Nah, ada sebuah puisi yang entah mengapa sampai sekarang bisa gue hapal di luar kepala. Judulnya “Bahasa Gelombang”. Nama penulisnya, ya itu, si Syauqi Alief Attar itu.
Meski gue belum terlalu paham , tapi menurut gue isinya memikat. Gue suka sama diksinya. Gaya bahasanya juga. Begini puisinya. Maaf kalo penggalan kalimatnya salah, soalnya gue cuma inget isinya doang. Hehe
Sudah lelah
Ke hutan-hutan seorang penyair
Merindu pohon-pohon belukar
Dikejar diam ke dalam batu-batu
Embun berangkat ke langit-langit dadanya
Dan pada rumput, matahari mabuk
Mengguncang darah jam yang tak kunjung pejam
Dalam simpuh tembang luka mengekal
Dan di dasar sujud;
Gelombang pulang

Ya Allah, Tuhan. Maha Suci Engkau yang menganugerahkan daya pikir dan kreativitas pada kami; manusia. Selain “Aku” milik Chairil Anwar, maka Bahasa Gelombang bisa jadi adalah satu lagi puisi yang bisa gue hapal di luar nalar.
 Istimewa. Seolah saya terbius pada kata-katanya; Merindu pohon-pohon belukar || Mengguncang darah jam yang tak kunjung pejam... dan kalimat lain sampai tamat.
Jika ada yang tahu siapa dia, kasih info ke gue ya. Gue penasaran. Mungkin jaraknya sudah sepuluh tahun sejak pertama kali gue membacanya. Tapi buat gue, puisi itu selalu terdengar segar. Meski mungkin tak sesegar makna yang dikandungnya.
Jadi semakin pengen gue masuk sastra, namun semakin nampak pula bahwa keinginan itu sudah seperti oasis bagi gue yang terdampar di Gurun Entah-berantah ini :’)


5/08/2015

DUNIA BATAS



Itu dia judul dari lukisan pertama gue. Gambar sesederhana itu awalnya dibuat begitu saja tanpa arti. Sampai suatu hari gue pengen ngasih dia nama. Kemudian gue cermati lagi gambarnya. Mungkin kalau orang lain akan melukis apa yang ingin dia ekspresikan lewat gambar, maka gambar gue hanya gambar biasa yang terbentuk dari tangan yang ingin bergerak seenaknya.
Dunia Batas. Bukan nama album Payung Teduh, ya. Hehe... Nama boleh sama, tapi filosofinya boleh lah beda. Ngarang sendiri ini mah.
Lihat kalimat description di blog gue! “Kebebasan itu omong kosong!”. Oh, tentu aja, Sayang. Bagaimana tidak? Gak ada kebebasan yang mutlak di dunia ini. Ada, tapi bukan milik manusia. Kalo kamu gak setuju, maka gue gak peduli. Hehe.
Bahkan sejak membuka mata untuk pertama kali di muka bumi ini, kita tidak bisa bebas memilih ingin lahir dari rahim Siapa. Nah loh. Masih percaya pada kebebasan? Buat gue, kata bebas yang diberi imbuhan ke-an itu hanya omong-kosong-besar.
Kebebasan itu nyata, tapi gak pernah benar-benar nyata sepenuhnya. Akan ada yang namanya batas, baik dari pengaruh luar maupun faktor dari dalam diri kita. Ada yang namanya peraturan. Ada sesuatu yang kita sebut keterbatasan. Ketidakmampuan.
Bangunlah kalian, wahai orang-orang yang masih mengagungkan kalimat pembangkit percaya diri, “Hidup gue terserah gue!”. Kita memegang kemudi atas hidup kita, tapi ada Yang Maha Mengendalikan. Dan itu bukan kita. Bukan!
Kurang lebih itulah yang gue dapatkan setelah melihat lagi lukisan gue. Bukan lukisan yang bagus. Sama sekali bukan. Yang anak SD sekalipun bisa bikin yang lebih bagus. Tapi di sana gue sadar, jika dalam kehidupan yang kita lihat begitu banyak kesamaan, sebenarnya masih banyak yang belum kita tengok di luar sana.

Lingkaran yang kecil, yang lebih besar, mereka terkungkung dalam bilik merah. Segitiga di sana bebas ingin menghadap ke mana, tapi mereka hanya ada di area biru saja. Juga yang lainnya. Andaikata gue gak membuatnya terbagi dalam empat sekat, gambar-gambar di dalamnya tetap akan dibatasi oleh garis pinggir. Jika pun gue sengaja menghilangkan garis pinggirnya, maka ukuran kanvas yang hanya 30x30 cm itu adalah mentok membatasi bagun-bangun di permukaannya. Gue gak pandai menafsirkan gambar. Tapi kurang lebihnya ya gitu yang gue paham.
Silakan, nikmati kebebasan-yang-berbatas yang mengkungkung diri kita dengan bijak. Terkadang, membangun batasan dari peluang bebas dalam hidup justru perlu.